Beredar Foto Menteri Agama Yaqut Rangkul Ragil Mahardika Gay yang Lagi Viral, Cek Faktanya

Headline
Beredar foto Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas alias Gus Yaqut merangkul Ragil MahardikaBeredar foto Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas alias Gus Yaqut merangkul Ragil Mahardika

Pantau.com – Beredar foto Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas alias Gus Yaqut merangkul Ragil Mahardika. 

Nama Ragil Mahardika sedang menjadi perbincangan publik setelah tampil bersama suami homonya yang merupakan warga Jerman, Frederik Vollert, di podcast Deddy Corbuzier.

Foto Menag Yaqut merangkul Ragil di antaranya diunggah oleh akun Instagram @mardiguwp dan akun Twitter @RestyCayah. 

“Dapat meme beginian, ini bener nih? Atau hoax..ada ada aja berita, ampun dah????” tulis @mardiguwp dalam keterangan unggahannya.

Dalam keterangan foto ditulis Gus Ragil kader Ansor cabang Jerman. Sementara tulisan di bawah foto Menag Yaqut ditulis Gus Yaqut Panglima tertinggi GP Ansor. Ada juga tulisan ‘Apakah ini yang dinamakan dengan GP Ansor NU cabang LGBT?”

Di foto yang beredar itu, Ragil dan Gus Yaqut mengenakan peci dan kemeja hijau khas seragam GP Ancor/Banser dengan pose senyum sambil memberikan jempol.

Foto Menag Yaqut merangkul Ragil pun viral dan mendapatkan berbagai komentar dari netizen. Banyak yang mengatakan foto itu adalah editan, tidak sedikit yang mengatakan asli.

Sementara itu, Ketua GP Ansor, Luqman Hakim, menegaskan foto Gus Yaqut merangkul Ragil adalah editan. Menurutnya, tidak perlu keahlian khusus untuk menentukan foto itu asli atau rekayasa.

“Saya pastikan gambar itu 1.000 persen tidak asli alias hasil editan. Itu editan amatir. Tidak perlu pakar digital picture untuk mengetahuinya, mata orang awam saja bisa melihat itu gambar editan,” ujar Luqman Hakim kepada wartawan.

Luqman kembali menegaskan bahwa foto itu editan yang dilakukan amatiran. Dia menyatakan GP Ansor siap memberikan materi editing foto kepada pihak-pihak yang membuat.

“Kalau mau belajar photo editing, Ansor siap memfasilitasi. Kelihatan banget orang ini amatiran,” ujarnya.

“Tentu, kalau nanti sudah punya keahlian, harus digunakan untuk aktivitas yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat. Bukan untuk membuat fitnah, menyebar kebencian dan tindak negatif lainnya,” Luqman menambahkan.



rn

Tim Pantau
Editor
Aries Setiawan
Penulis
Aries Setiawan